Senin, 01 Mei 2017

MUARA TEWEH

MUARA TEWEH


            Muara Teweh adalah ibukota kabupaten Barito Utara bagian dari provinsi Kalimantan Tengah. Penduduknya merupakan suku asli Dayak Tewoyan atau juga di sebut Dayak Taboyan, Dayak Bakumpai dan Dayak Maanyan, disamping pendatang dari daerah lain. Adapun perhutanan, pertambangan batu bara dan emas serta perkebunan kelapa sawit dan karet adalah produk andalan dari kota Muara Teweh.
            Di kota Muara Teweh pernah terdapat benteng peninggalan Belanda. Lokasinya dahulu terletak pada lokasi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Barito Utara yang sekarang. Sebagai ibu kota Kabupaten, hingga sekitar menjelang tahun 1962 masih belum terdapat kendaraan roda empat di kota ini. Transportasi darat di dalam kota biasanya dilakukan dengan menggunakan sepeda roda dua sebagai alternatif berjalan kaki. Sedangkan hubungan transportasi dengan kota-kota lain disekitarnya, umumnya dengan memanfaatkan transportasi sungai, melalui sungai Barito. Di pinggiran sungai Barito ini dapat pula terlihat rumah-rumah apung yang dalam bahasa setempat disebut rumah lanting. Kendaraan roda 4 baru masuk di kota ini sekitar tahun 1962, di mulai dengan hadirnya 1 buah mobil jeep (Gaz) dan 1 buah truck, kendaraan dinas yang dimiliki oleh militer.
Dari persfektif rumpun bahasa Dusun Barito, maka asal nama kota Tumbang Tiwei yang kemudian berubah menjadi Muara Teweh, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.       Dalam komunitas Suku Bayan Dusun Pepas, disebut Nangei Tiwei (Nangei=Tumbang, Muara; Tiwei=Ikan Seluang Tiwei).
  1. Pada komunikasi Suku Bayan Bintang Ninggi, disebut Nangei Musini (Nangei Musini=Muara Musini).
  2. Pada Komunitas Suku Dusun Taboyan Malawaken, disebut Ulung Tiwei (Ulung Tiwei= Muara Tiwei, di mana Ulung Tiwei ini merupakan rumpun bahasa sebelah Timur/Mahakam. Misalnya, Ulung Ngiram disingkat Long Ngiram, jadi Ulung Tiwei disingkat Long Tiwei).
  3. Pada komunitas Dusun Bakumpai/Kapuas, disebutkan Tumbang Tiwei (Tumbang Tiwei= Muara Tiwei, yang kemudian oleh kolonial Belanda dimelayukan menjadi Muara Teweh).
  4. Lebih Jauh, penyebutan nama kota Muara Teweh yang berasal dari kata Tumbang Tiwei tersebut tampaknya sejalan adanya suku-suku Dusun Barito Utara, seperti dikutip dari buku “Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan”, karya Tjilik Riwut (Mantan Gubernur Kalimantan Tengah). 




            Demikianlah, asal-usul nama kota Muara teweh dan jenis Suku Dusun Barito Utara. Kendatipun sama Dusunnya dan sama Dayaknya, akan tetapi Belanda malah membedakan sebutan Suku Dusun Barito dan Suku Dusun Kapuas-Kahayan. Suku Dusun Barito yang berdiam di Tanah Dusun (Doesen Landen), disebutnya Dusun Barito, Sedangkan Suku Dusun yang berdiam di Kapuas -Kahayan, disebutnya Dayak Kapuas Kahayan. Tak jelas, apa makna dan tendensi dari penyebutan mana yang berbeda tersebut.
            Pada masa lalu, banyak rumah betang sebagai tempat tinggal komunitas penduduk barito utara. Diantaranya rumah betang Lebo Lalatung Tour, Pendreh, Bintang Ninggi, Lemo, Lebo Tanjung Layen, Butong, Lanjas, Nihan, Papar Pujung dan Konut Tanah Siang (Mukeri Inas, et.al ;2004). Rumah Betang dan komunitas penduduk yang menjadi dasar cikal-bakal bagi komunitas Muara Teweh, yakni Juking Hara dan Tanjung Layen dengan beberapa ciri pertanda peninggalan sejarahnya masing-masing. Juking Hara dan daerah sekitarnya adalah tempat dikuburkannya Tumenggung Mangkusari, tempat peristiwa Bukit Bendera dan Kuburan Belanda serta tempat didirikannya benteng belanda untuk pertama kalinya Tahun 1865.



 
                                    
Sedangkan Lebo Tanjung Layen (Lebo Tanjung Kupang) tempat kedudukan kota Muara Teweh sekarang, yakni di sekitar Masjid Jami Muara Teweh, dengan sungai Kupang yaitu sungai yang membelah Simpang Merdeka dan Simpang Perwira yang ada hingga saat ini.

Posisi Kabupaten Barito Utara pada 114° 27’ 00” – 115° 49’ 00” Bujur Timur dan 0° 58’ 30”
Lintang Utara – 1° 26’ 00” Lintang Selatan. Wilayah Barito Utara meliputi pedalaman daerah aliran Sungai Barito yang terletak pada ketinggian sekitar 200-1.730 m dari permukaan laut. Bagian selatan merupakan dataran rendah dan bagian utara merupakan dataran tinggi dan pegunungan. Potensi terbesar kawasan ini ada pada sektor kehutanan, pertambangan (batubara dan emas), sedangkan untuk sektor perkebunan adalah kelapa sawit dan karet. Sektor kehutanan dan perkebunan karet sudah cukup lama turut menyumbang pemasukan bagi negara sedangkan sektor pertambangan seperti tambang emas juga memberi andil yang cukup besar. Tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit saat ini sudah mulai berproduksi yang nantinya diharapkan dapat memberikan pemasukan yang cukup besar bagi negara dan daerah.
Jumlah penduduk Kabupaten Barito Utara sekitar 120.607 jiwa dengan klasifikasi 62.439 laki-laki dan 58.168 perempuan serta jumlah Rumah Tangga sebanyak 30.445 KK (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).




Tempat Wisata Muara Teweh
1.      Air Terjun Jantur Doyan


            Air Terjun Jantur Doyan menjadi tempat favorit yang dikunjungi masyarakat di Kabupaten Barito Utara dan sekitar. Air terjun itu terletak sekitar 18 kilometer dari Kota Muara Teweh, ibu kota Kabupaten Barito Utara.
Terdapat gerbang masuk yang besar. Di dekatnya, ada sebuah warung dan lahan untuk parkir mobil. Sebenarnya mobil maupun sepeda motor bisa masuk ke dalam jika kondisi jalan sedang kering.
Jarak kawasan air terjun dari gerbang mencapai sekitar 500 meter. Selama perjalanan menuju lokasi, di kiri dan kanan jalan, terdapat pepohonan yang besar, teduh, dan sangat sejuk. Untuk bisa sampai ke lokasi air terjun, ada tangga kayu yang didesain sedemikian rupa sehingga pengunjung betah berada di lokasi tersebut.
Air terjun itu memiliki tinggi sekitar empat meter. Di bawah air terjun, terdapat hamparan berbatuan yang mengalirkan air terjun ke sungai kecil. Di samping kiri dan kanan, tampak tebing yang curam membentuk 90 derajat.
walau jalan kesana agak susah tp akan terbayarkan dengan pemandangan yang eksotis...  dengan adanya ikut andilnya pihak dari sekitar masyarakat dalam mengelola semoga daerah ini menjadi pilihan bagi wisatawan kedepannya... semoga semakin maju kedepannya dan di harapkan adanya andil dari pihak masyarakat, pemerintah dan dari segala aspek agar semua menjadi lebih maju di masa akan datang. 



2.      Gunung Lumut


            Berada di Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara, Gunung Lumut yang masih menjadi bagian dari kawasan Pegunungan Schwaner dan Muller di "jantung" Kalimantan menyimpan keistimewaan tersendiri. Gunung yang memiliki luas sekitar 8.000 hektare (ha) dan memiliki puncak tertinggi sekitar 1.210 mdpl tersebut saat ini menjadi bagian dari kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut dengan luas sekitar 28.000 ha.
            Informasi siapa saja yang pernah mencapai puncak tertinggi gunung tersebut masih simpang siur meski ada penduduk dari salah satu desa terdekat yang membenarkan soal keberadaan patok milik Belanda di puncak gunung.Pada satu kesempatan dalam media trip bersama WWF Kalimantan Tengah untuk mengobservasi kawasan Gunung Lumut dan Desa Muara Mea pada tanggal 11--20 November 2013, Kepala Adat Desa Muara Mea Mantung mengatakan puncak dari gunung yang memang disakralkan masyarakat Dayak penganut Kaharingan tersebut tidak dapat didaki.
"Tidak bisa sampai puncak, bisa mati," ujar Mantung.
Terlepas dari unsur mistis yang menjadi kepercayaan masyarakat desa di sekitar gunung tersebut, medan menuju puncak-puncak Gunung Lumut memang tidak mudah. Ketua Yayasan Gunung Lumut-Muller Syahdan Sindrah yang pernah mendampingi Tim Ekspedisi Muller Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melakukan penelitian di gunung tersebut pada tahun 2003 mengaku hanya sampai di puncak kelima dengan ketinggian sekitar 1.040 mdpl. Setelah 23 hari melakukan penelitian, menurut dia, tim ekspedisi dari LIPI ini memutuskan untuk turun. Salah satu yang menjadi alasan karena tidak ada lagi sumber air yang dapat dipergunakan untuk bertahan hingga ke puncak tertinggi, yakni puncak ketujuh Gunung Lumut tersebut. Baik Mantung maupun Syahdan membenarkan adanya udang yang hidup di antara lumut-lumut tebal di gunung tersebut. Mantung pun mengaku pernah melihat kura-kura dengan leher panjang yang hidup tidak jauh dari salah satu danau kecil di sana. Sesuai namanya, gunung ini memang memiliki keistimewaan berupa hamparan-hamparan lumut yang menutupi tanah, batu, batang pohon, hingga ranting.
            Menurut Syahdan, ketebalan lumut tersebut makin menjadi-jadi di atas ketinggian sekitar 900 mdpl meski di ketinggian sekitar 600 mdpl pun hamparan lumut sudah dapat terlihat. "Kalau kita masuk, bisa sampai ke paha atau pinggang. Jadi, harus hati-hati kalau melangkah, takutnya terperosok. Kadang di bawah lumut itu ada tikus hutan atau hewan-hewan kecil lain hidup di sana," lanjutnya.

Observasi Gunung Lumut
            LIPI mendapat kepercayaan untuk melakukan survei potensi keanekaragaman hayati di pegunungan Mueller dengan membentuk Tim Ekspedisi Mueller yang melibatkan beberapa ahli dan terbagi dari tiga bagian yang berlangsung mulai dari 2003 hingga 2005. Ekspedisi tersebut berhasil menginventarisasi 1.200 jenis tumbuhan, 159 jenis burung, 24 jenis kupu-kupu, 282 jenis ngengat, 17 jenis reptil, 11 jenis ampibi, 41 invertebrata gua, dan 82 jenis ikan. Tercatat pula sedikitnya 40 jenis tumbuhan, sembilan jenis ikan, dan 10 jenis burung yang endemik Kalimantan. Dalam ekspedisi selama tiga tahun tersebut juga tercatat ditemukan 10 jenis tumbuhan dan delapan satwa berupa enam jenis burung, satu jenis macan dahan, dan satu jenis bulus yang langka.
            Selain itu, ditemukan pula lima jenis ikan dan satu jenis tumbuhan yang termasuk jenis yang baru, serta sejumlah jenis flora dan fauna yang diduga jenis baru seperti Thismia mullerensis. Namun, temuan tersebut memang tidak seluruhnya berasal dari Gunung Lumut karena ekspedisi tersebut dilakukan di Bukit Batikap, hulu sungai Busang, Sapathawung, Batu Ayam di Kabupateng Murung Raya, hingga Gunung Lumut di Kabupaten Barito Utara. Observasi selama dua hari dua malam yang dilakukan WWF Kalimantan Tengah dan sejumlah media nasional dan daerah bersama beberapa staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Barito Utara di kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut pun dapat menginventarisasi beberapa jenis tumbuhan.
            Dalam pendakian hingga ke puncak Bawo Biang atau Bukit Beruang setinggi 761 mdpl di kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut yang ditempuh dalam waktu hampir selama empat jam dari Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN) PT Indexim Utama tersebut rombongan juga menemukan jejak fauna yang menjadi penghuni hutan lindung tersebut. Pada ketinggian sekitar 500 mdpl ditemukan tempat bertengger Merak dan kubangan bekas babi hutan, sedangkan di puncak Bawo Biang sebuah pohon tampak berlubang relatif cukup besar yang menurut Kepala Adat Desa Muara Mea Mantung, lubang tersebut dibuat oleh Beruang Madu yang mencari rayap. Sepanjang pendakian tersebut rombongan sering ditemani suara burung Rangkong atau pun Bubut, sedangkan lipan, rayap, semut besar, ulat bulu, lintah daun, pacet tanah, dan pacet daun mudah ditemui.    Beberapa jenis anggrek pun dapat dijumpai salah satunya adalah anggrek macan. Meski belum sampai di Gunung Lumut, berbagai jenis lumut maupun jamur mudah dijumpai di Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut.

            Kekayaan hayati kawasan hutan lindung yang merupakan bagian dari Pegunungan Muller memang ini memang diakui oleh LIPI. Sulitnya medan menuju puncak Gunung Lumut ini pula yang dipercaya membuat vegetasi di puncak gunung masih terjaga dengan baik. Posisi gunung yang berada paling hulu dan tertinggi jelas membuat kawasan ini sangat penting sebagai daerah penyangga bencana banjir bagi 27 desa di bagian hilir di tepian Daerah Aliran Sungai (DAS) Teweh, 16 desa di tepian DAS Montallat, dan puluhan desa di tepian DAS Ayoh wilayah Kabupaten Barito Selatan. Kehilangan kawasan Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut ini jelas bencana bagi puluhan ribu jiwa, bahkan hingga ratusan ribu orang. Perlindungan kawasan ini dari aksi pembalakan liar dan pertambangan menjadi sangat penting dilakukan dengan segera sehingga tidak heran jika masyarakat sekitar sendiri yang mengajukan kawasan ini menjadi taman nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar