Senin, 24 April 2017

Makalah Psikologi Cara Mengatasi Gangguan Psikolog Pada Masa Kehamilan


Makalah Psikologi
Tentang Cara Mengatasi Gangguan Psikolog Pada Masa Kehamilan









Di Susun Oleh             :
Kelompok                   : I ( Satu )
           Anggota                       :
 Eka Putri Ayu                        (16140198 )
 Yunia Sari                             (16140200 )
 Listiana Dia Ayu Sholihah      (16140123) 
Serly Anjelina                        (16140175 )
Anggika Indah Permatasari      (16140121)                                          Desiani Puteri Darmawanti      ( 16140197)           
Hemmy Setia Jati                    (16140128 )
Palagia Theisya susi                ( 16140117)
Andini Maulidia                      (16140163 )
Katarina Devi                          (16140125 )
Notin Lolita                            (16140148 )
Yulia Yunara Seran                 (16140210 )
RR.Asyifa Arum                     (16150149)
Erika Nur Fitriana                    (16140215)                          
Yunita Santi Lalo                    (16140216 )                         
Ria Abdah Sari                      (16140207 )
Sri Wahyuni                            ( 16150148)
Ika                                                                                                      
    Kelas               : B.13.2




PROGRAM STUDI D.IV BIDAN PENDIDIK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
TAHUN 2016 / 2017



KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT, dimana atas segala rahmat dan izin-nya, saya dapat menyelesaikan makalah tentang Tentang Cara Mengatasi Gangguan Psikolog Pada Masa Kehamilan.         
Shalawat serta salam tak lupa penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi semesta alam Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan makalah ini, walaupun penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan didalam makalah ini. Untuk itu saya berharap adanya kritik dan saran yang membangun guna keberhasilan penulisan yang akan datang.
Akhir kata, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesainya makalah ini semoga segala upaya yang telah dicurahkan mendapat berkah dari Allah SWT. Amin.


Yogyakarta, 10 April 2017


Penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………….……………………………………………………....2
DAFTAR ISI…………….…………………………………………………………………...3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang………………………………………………….......…......…..…....4
B.     Rumusan Masalah………….…………..………………………......………...…….4
C.     Tujuan penulisan…………...........………………….……………......………....…4
BAB II PEMBAHASAN
.2.1        Keadaan dan ketegangan emosi ibu...........................................................5
2.2       Perubahan dan Adaptasi Psikologis Ibu ......................................................6
2.3       Gangguan Psikologis pada Kehamilan........................................................8
2.4       Peran Bidan Dalam Mengatasi Gangguan Psikologi Pada Masa
     Kehamilan
...............................................................................................10
2.5           Dukungan Psikososial dan sumber sumber dukungan social....................12
2.6        Contoh kasus dan penyelesaian dalam bentuk SOAP...................................13

BAB III   PENUTUP
A.    Kesimpulan..................................................................................................15
B.     Saran...........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….............15



                                                  BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Kehamilan adalah periode krisis yang akan berakhir dengan lahirnya seorang bayi dan merupakan episode dramatis dari kondisi biologis maupun psikologis yang tentu membutuhkan adanya adaptasi. Selama kehamilan wanita akan mengalami banyak perubahan baik fisik maupun psikologis. Emosi ibu yang sedang hamil cenderung  labil. Reaksi yang ditunjukkan terhadap kehamilan juga dapat berubah-ubah. Perubahan fisik dan psikologis yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian  pola hidup  dengan proses kehamilan yang terjadi. Persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat menjadi pencetus reaksi emosional yang ringan hingga tingkat tinggi sehingga berujung pada gangguan jiwa yang berat.
Secara umum, semua emosi yang dirasakan oleh wanita hamil cukup labil, Ia dapat memiliki reaksi yang ekstrem dan suasana hatinya kerap berubah dengan cepat. Reaksi emosional dan persepsi mengenai kehidupan juga dapat mengalami perubahan. Ia menjadi sangat sensitif dan cenderung akan bereaksi berlebihan.Wanita hamil memiliki kondisi sangat rapuh. Mereka sangat takut akan kematian baik pada dirinya sendiri maupun pada bayinya. Mereka cemas akan hal hal yang tidak dipahami karena mereka merasa tidak dapat mengendalikan tubuhnya dan kehidupan yang mereka jalani sedang berada dalam suatu proses yang tidak dapat berubah kembali. Hal ini membuat sebagian besar wanita menjadi tergantung dan beberapa lainnya menjadi lebih menuntut.
1.2    Rumusan Masalah
a.    Bagaimana keadaan dan ketegangan emosi ibu pada masa kehamilan ?
b.    Bagaimana perubahan dan adaptasi psikologis ibu hamil ?
c.     Bagaimana gangguan psikologis pada kehamilan ?
d.    Bagaimana cara mencegah dan mengatasi rasa tertekan pada masa kehamilan ?
e.     Siapa saja yang bisa menjadi sumber-sumber dukungan psikososial ?
1.3    Tujuan Makalah
a.Untuk mengetahui dan memahami  keadaan dan ketegangan emosi ibu.
b.Untuk mengetahui dan memahami perubahan dan adaptasi psikologis
       
ibu hamil.
c. Untuk mengetahui dan memahami gangguan psikologis pada kehamilan.
d.    Untuk mengetahui dan memahami mencegah dan mengatasi rasa tertekan pada masa kehamilan.
e.     Untuk mengetahui dan memahami sumber-sumber dukungan psikososial.

BAB II
     PEMBAHASAN

2.1    Keadaan dan ketegangan emosi ibu
Keadaan emosional ibu selama kehamilan juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan perinatal, karena ketika seorang ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, stres, dan emosi lain yang mendalam maka terjadi perubahan psikologis. Ibu yang mengalami kecemasan berat dan berkepanjangan sebelum atau selama kehamilan, kemungkinan dapat mempersulit persalinan ibu. Maka perlunya dukungan psikososial untuk  ibu selama kehamilan sangat penting dikarenakan dukungan dapat memotivasi dan memberi rasa tenang ibu selama kehamilan. Perubahan emosional pada trimester I adalah penurunan kemauan seksual karena letih dan mual, perubahan suasana hati seperti depresi atau khawatir, ibu mulai berpikir mengenai bayi dan kesejahteraannya dan kekhawatiran pada bentuk penampilan diri yang kurang menarik.
Perubahan emosional pada trimester II adalah terjadi pada bulan kelima kehamilan, terasa nyata karena bayi sudah mulai bergerak sehingga dia mulai memerhatikan bayi dan memikirkan apakah bayinya akan dilahirkan sehat. Rasa cemas ibu hamil akan terus meningkat seiring bertambah usia kehamilannya.
Perubahan emosional pada trimester III adalah terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan biasanya gembira bercampur takut karena kehamilan telah mendekati persalinan. Kekhawatiran ibu hamil biasanya seperti apa yang akan terjadi pada saat melahirkan, apakah bayi lahir sehat dan tugas-tugas apa yang dilakukan setelah kelahiran. Pemikiran dan perasaan seperti ini sangat biasa terjadi pada ibu hamil. Sebaiknya kecemasan seperti ini dikemukakan istri kepada suaminya dan sebaiknya suami lebih memperhatikan dan peka terhadap perasaan dan kondisi istrinya.



2.2    Perubahan dan Adaptasi Psikologis Ibu Hamil
a.   Perubahan dan Adaptasi Psikologis Ibu Hamil Trimester I
Awal kehamilan, ibu akan membenci perubahan yang terjadi pada dirinya. Merasa kecewa, terjadi penolakan, kecemasan, dan kesedihan. Perubahan psikologi pada trimester awal ini menekankan untuk  mencapai peran sebagai ibu. Tercapai peran ibu memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktivitas.
Stres yang terjadi pada kehamilan trimester awal ada dua tipe stres, yaitu stres negatif dan positif. Kedua stres ini dapat mengganggu dan mempengaruhi reaksi individu.  Ada pula yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Stres intrinsik berhubungan dengan tujuan individu, yang mana seorang individu akan membuat sesempurna mungkin tujuan hidupnya, baik dalam kehidupan pribadi ataupun dalam kehidupan sosialnya secara profesional. Stres ekstrinsik muncul karena faktor eksternal seperti rasa sakit, kehilangan, kesendirian, dan masa reproduksi.

b.   Perubahan dan Adaptasi Psikologis Ibu Hamil Trimester II
Terdapat perubahan psikologis pada kehamilan trimester kedua, yaitu:           
    
1.Fase Prequeckning. Selama akhir trimester pertama dan prequeckning pada semester kedua, ibu hamil mengevaluasi kambali hubungannya dan segala aspek di dalamnya dengan orang tuanya yang telah terjadi dan akan menjadi dasar bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkan. Namun bila menemukan adanya sikap yang negatif, maka ibu hamil akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya akan menyebabkan rasa bersalah pada ibunya. Kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses yang terjadi pada pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dan penerima kasih sayang menjadi pemberi kasih sayang (persiapan untuk menjadi ibu). Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk  mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang akan memberi kasih sayang kepada anaknya. Trimester kedua akan dikatakan sebagai periode pancaran kesehatan disebabkan selama trimester ini wanita umunya merasa baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan
2. Fase Postqueckning. Setelah ibu merasakan queckning, identitas keibuan yang                          muncul.
 Ibuhamil akan fokus pada kehamilan dan persiapan untuk  menyambut lahirnya sang bayi. perubahan ini mungkin akan menyebabkan sebagian wanita menangis dan bersedih karena ia akan meninggalkan fase kehamilannya. Terutama bagi ibu yang hamil pertama dan para wanita karir yang sedang hamil. Pada wanita multigravida, peran baru dengan anaknya yang lain dan bagaimana nanti bila ia harus meninggalkan rumah untuk  proses persalinan. Pergerakan yang dirasakan dapat membantu ibu dalam membangun konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dengannya. Hal ini menyebabkan fokus pada bayinya.

c. Perubahan dan Adaptasi Psikologis Ibu Hamil Trimester III
Seorang ibu mungkin akan merasa takut dengan kelahiran yang akan dilaluinya. Ia mungkin sudah merasa takut akan rasa takut dan bahaya fisik yang akan timbul  saat proses kelahiran. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan kembali muncul pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa bahwa dirinya semakin jelek dan aneh. Di samping itu, ibu juga akan merasa sedih karena perhatian dari suami selama kehamilan mungkin akan berkurang. Pada trimester ketiga inilah ibu memerlukan ketenangan dan dukungan dari suami, keluarga serta bidan atau dokter kandungan.
Trimester ketiga lebih sering disebut dengan periode menunggu atau penantian dan waspada. Sebab pada masa ini ibu merasa tidak sabar ingin segera melihat anak yang selama sembilan bulan lahir ke dunia ini. Trimester ketiga adalah masa persiapan kelahiran dan peran sebagai orangtua seperti terpusatnya perhatian pada kelahiran bayi. orang tua dan keluarga mulai mengira-ira bagaimana anaknya (terutama wajahnya, akan menyerupai siapa), dan apa jenis kelaminnya. Mungkin  juga
nama cantik sudah disiapkan oleh orangtuanya. Trimester ketiga ini adalah masa aktif untuk penantian kelahiran bayi dan masa perubahan untuk  menjadi orang tua


2.3    Gangguan Psikologis pada Kehamilan
a.   Gangguan psikologi pada kehamilan palsu /                        pseudosiesis 
Kehamilan palsu adalah suatu keadaan di mana seorang wanita berada dalam kondisi yang menunjukkan berbagi tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapat menstruasi, adanya mual dan muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan dan gejala kehamilan lainnya bahkan kadang hasil test urine dapat menjadi positif palsu, tetapi sesungguhnya ia tidak benar-benar hamil. Faktor yang sangat sering berhubungan dengan terjaidnya kehamilan palsu adalah faktor emosional atau psikis yang menyebabkan kegagalan sistem endokrin dalam mengontrol hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil. Gejala gangguan psikologis pada pseudosiesis
Wanita dengan pseudosiesis memiliki kondisi psikologis sebagai berikut:
1. Adanya sikap yang ambivalen terhadapa kehamilannya, yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus tidak ingin menjadi hami. Ingin memiliki anak sekaligus dibarengi dengan rasa takut untuk menetralisasi keinginan mempunyai anak.
2.  Keinginan untuk  hamil terutama sekai tidak timbul  dari dorongan keibuan, akan tetapi khusus dipacu oleh dendam, sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh pada wanita yang steril.
3.    Secara bersamaan muncul kesediaan untuk  menyadari, sekaligus kesediaan untuk  tidak mau menyadari bahwa kehamilannya adalah ilusi belaka.
4.    Wanita dengan pseudosiesis tidak terlepas dari pseudologi yaitu fantasi-fantasi atau kebohongan yang selalu ditampilkan ke depan untuk  mengingkari hal-hal yang menyenangkan.

b.    Fenomena kehamilan di luar nikah
Remaja bisa mengatakan bahwa seks bebas atau pranikah itu aman untuk  dilakukan. Namun, bila remaja melihat dan memahami akibat dari perilaku itu, ternyata lebih banyak membawa kerugian. Salah satu resikonya adalah kehamilan di luar nikah. Sesungguh merupakan suatu permasalahan kompleks yang dapat menghancurkan segalanya, masa muda, pendidikan, kepercayaan dan kebanggan orang tua, serta pandangan negatif dari masyarakat. Selain itu, kehamilan yang tidak diinginkan yang juga mengarah pada tindakan aborsi kriminalitas. Umumnya kehamilan di luar nikah dialami oleh remaja, dimana remaja dengan rentang usia 12-19 tahun memiliki kondisi psikis yang labil karena masa ini merupakan masa transisi dan pencarian jati diri. Dengan kehamilan di luar
nikah banyak permasalahan yang akan dihadapi oleh remaja, di antaranya adalah:
1.    Timbulnya perasaan takut dan bingung yang luar biasa, terutama bagi wanita yang menjadi objek akan merasakan ketakutan besar terhadap respon orang tua, dan biasanya mereka menutupi kehamilannya sehingga didapatkan tindakan lain dan orang tua baru menyadari setelah perut anaknya membuncit.
2.    Rasa ketakutan jika kekasih yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau menolongnya keluar dari kondisi yang rumit itu.
3.    Cemas jika teman-temannya mengetahui, apalagi pihak sekolah yang mungkin saja akan mengeluarkannya dari sekolah.
4.    Rasa takut yang timbul  karena ia sangat tidak siap menjadi seorang ibu.
5.    Timbul keinginan untuk  mengakhiri kehamilan dengan aborsi.

c.       Keguguran
Keguguran diartikan sebagai keluarnya janin atau persalinan prematur sebelum mampu untuk  hidup. Resiko keguguran memiliki persentase sebesar 15% - 40% dari ibu hamil, dan 60 -75% keguguran terjadi sebelum usia kehamilan 3 bulan. Namun jumlah kejadian atau resiko keguguran akan menurun pada usia kehamilan di atas 3 bulan.
d.      Hamil Dengan Janin Mati
Kematian janin dalam kandungan disebut Intra Uterin Fetal Death ( IUFD ), yakni kematian yang terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau pada trimester kedua. Jika terjadi pada trimester pertama disebut keguguran atau abortus. Jika janin sudah meninggal di dalam kandungan maka rahim tidak akan membesar lagi, pembesarannya akan berhenti sesuai dengan usia kehamilan saat janin meninggal. Misalnya, janin meninggal pada usia kehamilan 12 minggu maka pembesaran rahim berhenti pada usia kehamilan 12 minggu, tidak akan membesar misalnya sampai usia kehamilan 20 minggu. Hal ini disebabkan karena pada janin mati, otomatis pertumbuhannya
berhenti, sedangkan pembesaran uterus dimungkinkan karena adanya pertumbuhan janin.

e.     Gangguan psikologis pada kehamilan yang tidak diinginkan
Kehamilan tidak hanya terjadi pada remaja akibat hubugan yang terlampau bebas, tetapi juga pada wanita yang telah menikah sebagai akibat dari kegagalan konrasepsi dan penolakan pada jenis kelamin bayi yang ia kandung. Tanda dan gejala psikologis pada kehamilan yang tidak     dikehendaki.
1.    Pada kehamilan yang tidak dikehendaki, merasa bahwa janin yang dikandungnya bukanlah bagian dari dirinya dan berusaha untuk  mengeluarkan dari tubuhnya melalui tindakan-tindakan tidak bermoral seperti aborsi.

2.    Beberapa wanita bersikap aktif-agresif, mereka sangat marah dan dendam pada kekasih atau suaminya serta merasa sanggup menanggung konsekuensi dari tindakannya. Selain itu, calon bayinya dianggap sebagai beban dan malapetaka bagi dirinya.



f.     Hamil Ketergantungan Obat
Ketergantungan obat adalah suatu keadaan kebutuhan fisik atau mental ( psikologis ) atau kedua
duanya yang terjadi sebagai akibat pemakaian abat secara terus menerus atau secara periodik.

2.4 Peran Bidan Dalam Mengatasi Gangguan Psikologi Pada Masa
      
Kehamilan                                                                                                              a.     Pengelolaan  gangguan psikologis pada pseudosiesis
1.  Menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk  mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit.
2.  Berupaya agar klien mendapat wawasan dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan. Dengan demikian, klien diharapkan dapat memperoleh kesdaran diri, kejujuran, dan hubungan pribadi yang secara efektif dapat menghadapi dengan realitas, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional.

b.    Pengelolaan gangguan psikologis pada kehamian diluar nikah
Penatalaksanaan yang bisa dilakukan dengan melakukan konseling humanistik, di mana manusia sebagai individu berhak menentukan sendiri keputusannya dan selalu berpandangan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah baik. Sedangkan konselor yang ingin memberikan konseling perlu memiliki tiga karakter sebagai berikut  ini:
1.    Empati adalah kemampuan konselor untuk  merasakan bersama dengan klien, usaha berfikir bersama tentang dan untuk  mereka.
2Positive regard (acceptance), yaitu menghargai klien dengan berbagai kondisi dan keberadaannya.
3.  Congruence (genuineness), adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik. Oleh karena itu, di dalam menghadapi permasalahan kehamilan di luar nikah bagi para remaja, maka sebagai bidan atau psikolog dapat memberikan konseling dengan keluarga, antar remaja itu sendiri, konselor dan pihak keluarga, mengingat orang tua masih memiliki andil yang besar pada kehidupan anak remaja mereka.

Selain itu juga untuk  menghindari tindakan-tindakan nekat, dalam mengatasi gangguan psikologis pada masa kehamilan perlu diperhatikan beberapa hal berikut  :
a.   Mencegah timbulnya rasa tertekan dengan menghindari rangsangan-rangsangan dapat menimbulkan kemarahan maupun luapan emosi lainnya. Kegiatan dan kesibukan yang menyenangkan dapat dilakukan.
b.  Masa depresi yang berhubungan dengan masa hamil sebaiknya dicegah dengan kesibukan seperti membaca cerita yang bagus, melihat gambar-gambar indah, dan berjalan-jalan menghirup hawa segar.
c.   Mencegah kelelahan tubuh ibu supaya tidak melampaui batas daya tahan. Pada masa depresi, pekerjaan memang perlu dikurangi tetapi harus tetap ada kegiatan.
dMelakukan pertemuan antar kaum perempuan, kaum ibu maupun pertemuan informal akan bermanfaat. Pertemuan dari hati ke hati dan percakapan intim dapat bermanfaat.
e.   Pembinaan kesatuan suami istri melalui penciptaan hubungan suami istri yang serasi berdasarkan kasih, seperti :
1.    Keinginan untuk  mengetahui dan mengenal pasangan hidup.
2.    Menerima pasangan kita dengan semua sifatnya.
3.    Melalui sikap memberi dan menerima akan terbina saling penyesuaian.
4.    Usaha mencapai kesesuaian dalam hal tubuh dan jiwa.
5.   Untuk mengatasi kebosanan dengan keinginan akan hal yang baru, perlu daya
kreasi dalam menciptakan cara-cara baru demi  terpupuknya kemesraan pada pertemuan intim suami istri.
6.  Anjurkan pada ibu    hamil agar mendengarkan musik.                               
Upayakan berbagai     cara agar terhindar dari stres. Atasilah kecemasan maupun emosi negatif lainnya dengan mendengarkan musik lembut, belajar memusatkan perhatian, berzikir, yoga atau relaksasi lainnya.
f.   Senam Hamil                                                                                                                                       Anjurkan ibu hamil bergabung dengan kelompok senam hamil sejak usia kandungan menginjak usia 5-6 bulan. Dengan syarat untuk  berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan. Senam hamil tidak hanya bermanfaat melatih otot-otot yang diperlukan dalam proses persalinan, melainkan juga memberi manfaat psikologis. Pertemuan sesama calon ibu biasanya diisi dengan acara berbagi pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran positif. Melalui kegiatan itu pula secara perlahan kesiapan psikologis calon ibu dalam menghadapi persalinan menjadi semakin mantap.
g.  Latihan Pernafasan
Anjurkan agar ibu sering melakukan latihan relaksasi dan latihan pernapasan secara teratur. Latihan ini bermanfaat untuk  ketenangan dan kenyamanan sehingga kondisi psikologis bisa lebih stabil.
h.  Bila depresi masih belum dapat diatasi dan tidak dapat dianalisis penyebab segala keadaan dan pernderitaan batin, perlu diminta pertolongan pada ahli dalam bidang ini yaitu pskiater.


                                    
2.5 Dukungan Psikososial dan sumber sumber dukungan social
Wanita pada saat hamil mengalami perubahan baik fisik maupun psikis, sehingga
dukungan pada masa-masa kehamilan sangat diperlukan agar ibu tidak mengalami
stres sehingga ibu tetap sehat serta bayi pun juga dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik. Bentuk-bentuk dukungan tersebut dapat diperoleh dari orang-orang
terdekat ibu, terutama dukungan dari suami, keluarga maupun lingkungan sekitar.
a.      Dukungan dari suami
Suami mempunyai tanggung jawab yang besar sebagai kepala keluarga. Selain sebagai pencari nafkah, Suami berperan sebagai pendukung utama (main supporter) . Dukungan yang diberikan suami sangat mempengaruhi kondisi ibu dan bayi yang dikandungnya. Keterlibatan suami sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya.
b.      Dukungan anggota keluarga lainnya
Seorang wanita yang sedang hamil biasanya juga perlu mendapatkan dukungan dari anggota keluarga lain, seperti dukungan dari orang tua dan mertua. Anggota keluarga lainnya juga mempengaruhi tingkat stres ibu hamil. Meskipun suami mendukung penuh kehamilan istri, namun ibu hamil dapat merasa tertekan jika kehamilannya tidak diterima oleh angota keluarga lainnya. Oleh karena itu, diharapkan anggota keluarga lainnya mendukung penuh atas kehamilan istri.
c.       Dukungan dari lingkungan sosial
Dukungan dari lingkungan sekitar tempat tinggal juga berpengaruh terhadap kehamilan. Sebab jika lingkungan sosial tidak menerima atas kehamilan ibu, maka akan mengganggu psikologis ibu tersebut.
d.      Dukungan Dari Tenaga Kesehatan
e.      Tenaga kesehatan khususnya bidan sangat berperan dalam memberikan dukungan pada ibu hamil. Bidan sebagai tempat mencurahkan segala isi hati dan kesulitannya dalam menghadapi kehamilan danpersalinan. Tenaga kesehatan harus mampu mengenali keadaan yang terjadi disekitar ibu hamil. Hubungan yang baik, saling mempercayai dapat memudahkan bidan atau tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan. Tenaga kesehatan dapat memberikan peranannnya melalui dukungan :
1.    Aktif : Melalui kelas antenatal
2.    Pasif : Dengan memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami masalah untuk berkonsultasi, meyakinkan bahwa ibu dapat menghadapi perubahan selama kehamilan, membagi pengalaman yang pernah dirasakan sendiri, dan memutuskan apa yang harus diberitahukan pada ibu dalam menghadapi kehamilannya.

2.6   Contoh kasus dan penyelesaian dalam bentuk SOAP
Tanggal 28 Oktober Ny. S berumur 22 tahun G1P0A0 UK 32 Minggu  datang ke RSUD SLEMAN untuk periksa kehamilan, HPHT 18 Maret 2010, HPL 25 Januari 2011.  Ibu mengatakan merasa gerakan janinnya berkurang sejak 3 hari yang lalu. Dari hasil pemeriksaan ditemukan TD 150/90  mmhg, S :
36,8 0C, M : 82 x / mnt, R 24 x / mnt, Hb : 11,9 gram%, hasil USG janin tunggal, intrauterin, gerak negatif, DJJ negatif.

 : Subjek
Ny. S berumur 22 tahun G1P0A0 UK 32 Minggu, Ibu mengatakan merasa gerakan janinnya berkurang sejak 3 hari yang lalu.

O : Objektif
TD 150/90  mmhg                   N : 82 x / mnt
S : 36,8 C                                      R : 24 x / mnt
Pemeriksaan Laboratorium
Hb : 11,9 gram%
Pemeriksaan Penunjang
Hasil USG janin tunggal, intrauterin, gerak negatif, DJJ negatif.

A : Assesment
Primigravida umur  2        8 tahun, hamil 32 minggu, dengan IUFD      Masalah  : Ibu dan keluarga belum mengetahui
                                        
janinnya meninggal.
Kebutuhan                      : Memberitahu ibu dan keluarga secara hati – hati bahwa
    janinnya sudah meninggal.







  : Planning
1.  Memberitahu ibu dan keluarga dengan hati-hati bahwa dari hasil pemeriksaan, didapatkan bahwa janin yang dikandungnya sudah meninggal. Ibu menangis, suami tampak sedih dan keluarga terilahat menenangkan.
2Memberitahu keluarga bahwa janin harus segera dilahirkan. Menjelaskan mengenai pilihan untuk mengeluarkan janin, yaitu dengan menunggu janin lahir sendiri, dengan kemungkinan akan
menunggu dalam waktu lama dan tidak dapat ditentukan serta dapat menjadikan adanya risiko gangguan pada proses pembekuan darah atau pilihan kedua dengan dipacu (diinduksi) menggunakan obat.
3. Keluarga sepakat memilih proses kelahiran dengan induksi.
4.  Membuat kesepakatan terhadap pihak keluarga atas tindakan yang akan dilakukan.
Keluarga menyetujui tindakan dengan induksi misoprostol misoprostol 200 mg per oral/12 jam yang akan dimulai tanggal 28 Oktober 2010  jam 15:00  WIB sambil menunggu kesiapan mental dan ketenangan hati ibu untuk  menerima kenyataan.
5Memberi dukungan mental agar ibu dan keluarga bersabar dan menerima apa yang
          
terjadi. Ibu dapat menerima dan lebih tenang.
6.  Mengobservasi KU dan VS ibu.
7.  KU lebih baik dari sewaktu datang, TD : 140/80 mmHg, Suhu: 37,10C,Nadi 80 x/menit,
respirasi 20x/menit.               



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Kehamilan merupakan keadaan alamiah yang dialami hampir semua wanita. Dalam masa kehamilannya, ibu mengalami perubahan fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi kehidupan normalnya. Keadaan emosi ibu yang labil, serta mengalami ketakutan, kecemasan, stres, dan emosi lain yang mendalam, dapat menjadi pencetus reaksi emosional yang ringan hingga tingkat tinggi sehingga menimbulkan rasa tertekan dan berujung pada gangguan jiwa yang berat. Maka dari itu diperlukan dukungan psikososial selama masa kehamilan. Dukungan tersebut dapat diperoleh
dari orang-orang terdekat ibu seperti suami, keluarga, lingkungan serta bidan. Dukungan psikososial dari orang-orang terdekat ibu dapat memberikan rasa nyaman serta dapat mempermudah proses persalinan ibu.

3.2    Saran
Sebagai tenaga kesehatan khususnya bidan, sebaiknya mendukung kehamilan ibu dalam bentuk memberikan informasi tentang kehamilan, memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami masalah untuk  berkonsultasi.
Selain itu bidan wajib mengetahui kondisi psikologis ibu hamil  pertama dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi psikologisnya. Karena Selama kehamilan berlangsung, terdapat rangkaian proses psikologis khusus yang jelas, yang terkadang tampak berkaitan erat dengan perubahan biologis yang sedang terjadi.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Varney H, dkk. ( 2006  ). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Volume  1. Jakarta: EGC.

2.  Wulandari, Diah ( 2009 ). Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan. Jogjakarta: Mitra

Cendikia Offiset.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar